jump to navigation

Ketika Virus Flu Bergabung Jadi Satu May 30, 2009

Posted by Babeh Gibril in Bioteknologi, Mikroba.
trackback

images

TEMPO Interaktif, Washington: Bak para pemburu badai, para pejabat kesehatan publik kini dituntut harus bisa memprediksi kecepatan dan jalan virus penyebab merebaknya wabah flu babi H1N1 yang baru. Kemampuan tersebut dibutuhkan oleh para pejabat itu untuk menentukan mulai dari seberapa agresif vaksin dan antiviral harus dibuat sampai strategi mitigasi seperti penutupan sekolah-sekolah.

Dengan data perilaku H1N1 baru yang masih sangat minim, para peneliti lalu menengok ke masa lalu tentang kondisi musiman dan sebaran geografis pandemi flu demi mencari petunjuk. Mereka juga mempelajari hubungan antara H1N1 dengan virus-virus flu yang sudah dikenal, termasuk menelaah perilaku virus-virus cikal bakal H1N1 pada babi.

Analisis terlengkap yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa turunan virus H1N1 itu tidaklah baru-baru amat. Virus itu bisa dipastikan sudah wira-wiri setidaknya selama 10 tahun di antara kawanan babi di suatu tempat di dunia, tetapi luput dari deteksi. Tidak satu pun segmen genetik yang menyusunnya, dari total delapan segmen, yang pernah dilaporkan ada pada babi ataupun manusia.

“Hasil studi yang kami lakukan menekankan kebutuhan global untuk sistem pengawasan yang lebih sistematis terhadap virus-virus flu, terutama pada babi,” kata Nancy Cox, Kepala Divisi Influenza di Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nasional di Amerika Serikat, Jumat lalu.

Hasil studi yang diterbitkan bergegas oleh jurnal Science, Jumat (biasanya jurnal ini terbit Kamis), itu juga memastikan adanya kombinasi aneh gen-gen manusia, babi, dan unggas yang menyusun tubuh sang virus. Koalisi itu sukses membuat H1N1 baru menginfeksi lebih dari 11 ribu manusia di 42 negara dalam kurun sebulan saja. Meski kebanyakan mengalami flu ringan biasa, virus terbukti bisa mematikan seperti yang terjadi pada 86 kasus hingga memaksa Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan sebuah kondisi genting di ambang pandemi.

Cox dan tim peneliti internasional yang terlibat dalam studi itu menyatakan, pada babi memang banyak virus flu yang aneh-aneh. “Virus H1N1 ini cuma satu contoh, yang lain belum terlihat saja,” kata mereka dalam laporan di Science.

Dalam penelitian keroyokan itu, sebanyak 70 sampel virus H1N1 yang diambil dari Meksiko dan Amerika Serikat diurai kode genetiknya dan ditentukan dari mana asalnya. Dari sana, Cox dan kawan-kawannya mengungkap kalau virus H1N1 terbaru ini adalah kombinasi dari berbagai kombinasi.

Dalam virus itu ada bagian yang disebut triple reassortment atau tiga kali proses penyusunan ulang dari virus-virus yang pertama kali terdeteksi pada 1998. Virus-virus itu sudah mengandung unsur campuran gen manusia, burung, dan babi.

“H1N1 baru ini juga memiliki sedikit campuran dari turunan virus flu yang disebut Eurasia, ditambah satu segmen lagi yang terkait erat dengan sebuah sampel dari seorang pasien di Hong Kong yang pernah terinfeksi flu babi pada 1999,” demikian pernyataan laporan studi.

Bagaimana kombinasi dari berbagai kombinasi itu bisa terlahir masih misteri. Beberapa skenario ditawarkan, di antaranya proses penyusunan ulang (reassortment) yang terjadi di Asia atau Amerika.

Faktanya, bukan cuma babi yang harus dicemaskan oleh manusia. Hewan lain juga mungkin berperan menjadi inang sebuah penyakit tanpa hewan itu harus terlihat sakit. Cox dan timnya, contohnya, belum lama ini mendapati bangsa kucing, dari yang di hutan sampai yang rumahan, bisa terinfeksi flu burung H5N1.

“Kami tahu benar bahwa para kolega kami di bidang veteriner di Departemen Pertanian Amerika Serikat, dan mungkin tempat-tempat lain di dunia, saat ini sedang mencari tahu apakah sampel-sampel mereka dari babi atau hewan lain di dalam freezer menyediakan informasi rantai yang hilang ini,” kata Cox. “Jika kami dapat menentukan asal-muasal sebuah virus, kami juga semestinya bisa mengambil tindakan untuk memastikan virus itu tidak akan muncul lagi dalam bentuknya yang sedikit beda.”

Cox dan para peneliti lainnya sampai sekarang belum tahu bagaimana virus yang menginfeksi hewan bisa menginfeksi manusia juga. Virus-virus itu melompat tidak dengan cara mutasi yang biasanya. Terlebih, virus-virus itu bisa menyebar dengan mudah dari satu orang ke orang lain.

Para ahli flu mencemaskan situasi ini, yakni ketika virus-virus berlompatan dari hewan ke manusia tanpa perantara lagi. Kalaupun sudah sampai ke manusia, biasanya virus tidak menular dari satu orang ke orang lain–sebagai contoh, virus flu H5N1 yang menginfeksi 429 orang dan membunuh 262 orang lainnya jarang sekali yang ditemukan menular antarmanusia.

Tapi, nyatanya, tiga kejadian pandemi pada 1918, 1957, dan 1968 seluruhnya muncul ketika sebuah virus flu dari unggas mulai menginfeksi manusia.

Sejauh ini, dari pengambilan sampelnya, virus H1N1 baru menunjukkan sedikit sekali mutasi genetik. Artinya, satu sampel dari pasien di Meksiko secara virtual identik dengan sampel dari pasien lain di Amerika Serikat dan negara lain. “Ini mengindikasikan virus mungkin telah terintroduksi ke manusia dalam sebuah kejadian yang tunggal,” kata Cox.

Atau, jika lebih dari seorang yang terinfeksi langsung dari seekor hewan atau sumber lain, mereka semua terinfeksi oleh virus dengan genetik yang identik.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: